Sabtu, 14 April 2018

Gara-Gara Nonton Red Sparrow, Gue Kepengen Jadi Presiden


Poster film Red Sparrow.

Akhirnya film yang udah gue tunggu sejak beberapa bulan lalu keluar di bioskop Indonesia!
Yeaaahhh!! So happy, dan langsung komat kamit ngewajibin diri sendiri kalo gue harus banget nonton film ini di bioskop, gak cuma nunggu bajakannya sampe keluar di website!

Red Sparrow, film tentang agent Rusia yang diperankan epic oleh artis favorit gue yang cantiknya bukan main, Jennifer Lawrence. Sebenernya pas ngeliat trailer film ini gue udah menduga kalo Red Sparrow gak bakal tayang di Indonesia. Kenapa begitu? Ya daripada lo pada kepo, mending cek sendiri aja gimana trailernya atau sekalian aja langsung filmnya di lk21 wkwk.

Nah sebelum gue nonton, wajib banget buat gue untuk baca testimonial orang-orang yang udah nonton terlebih dahulu. Hal tersebut sangat berguna buat gue untuk menjadi referensi apakah film tersebut layak ditonton atau tidak. Hal ini gue yakini karena terkadang banyak banget film yang bagus di trailernya, tapi pas nonton filmnya zonk parah!

“Filmnya bagus sih, cuma sensornya keliatan banget, masa dari satu tempat pindahnya cepet banget.”

“Suka banget sama filmnya, alurnya bagus, Jennifer Lawrence berhasil banget meraninnya. Tapi sayang banget sensornya cacad.”

Hmm.. Dari beberapa review tersebut gue berpersepsi kalo emang film tersebut bakal ada sensor yang ngebuat gak nyaman di mata. Tapi karena emang udah penasaran dari awal sampe komat kamit janji buat nonton, pada akhirnya gue ngeyakinin diri buat nonton. Ya mau gimana? Ditayangin di bioskop Indonesia aja udah seneng banget gue.

Penampakan Jennifer Lawrence di salah satu scene dalam film tersebut.
Red Sparrow, film yang satu ini udah tertera jelas banget sebagai film dewasa dengan kategorisasi umur 21+ dan hal itu bisa lo liat di website ataupun di layar belakang embak-embak disaat lo mau beli tiket, bener nggak? Tapi sayangnya  gue gak pernah paham sama fungsi asli dari kategorisasi tersebut. 


Sampai di bangku theater yang merah merkah macam bibir Jennifer Lawrence yang udah tersibak di bayang-bayang pikiran gue. UGH! Film nya mulai. Ssstttt!

Baru beberapa menit gue tonton, eh langsung ada sensor YANG ENGGAK BANGET SENSORNYAAAAAAAAAA. Njiiirrrr elaaahhhh kaco parah! Arrrggghh gue kesel selama nontonnya. Walau bisa gue itung, ya sekitar 3-5 scene lah. Tapi itu tuh berasa banget. Sedih, kecewa, pengen teriak gue rasanya pas tiba-tiba kepotong. 

“Lah – lah? Kok gini sih? Kocag pake g biar ada qolqolahnya. 100% kecewa banget sama KPI atas sensor yang tidak menyenangkan tersebut,” kata gue dengan pelan. Sampai pas film itu tiba-tiba kepotong gue langsung gregetan dan teriak pelan (duh teriak pelan gimana tuh ya)– “SUMPAH GUE MAU JADI PRESIDEN BIAR BISA NGEBUBARIN KPI SEKALIAN”. Teriakan pelan gue mengaung dengan nada ketus yang diiringi tengokan orang yang duduk di sebelah kiri dan bawah gue. Sh*it, gue kekencengan teriak pelannya.

Sumpah ya, lo tau kan kasus sandy, tupai perempuan yang di spongebob itu? Dia kena sensor saat memakai bikini? Hell yaa.. kadang suka kasian sama Indonesia deh. Kartun yang jelas-jelas ditunjukan sebagai hiburan kaya gitu malah kena sensor. Tapi ftv yang sampe pelukan cipika cipiki di tayangin tanpa ada sensor. 

Ini hanya opini gue aja ya. Kartun yang ditujukan bagi anak-anak trus kena sensor begitu malah ngebuat anak penasaran dan bertanya kenapa hal tersebut terkena sensor. Dan hal tersebut nantinya malah memicu tindakan anak untuk melakukan hal lain yang mungkin 'aneh-aneh'. 

Sedangkan tayangan tidak mendidik yang bergelimpangan di stasiun televisi manapun menjadi dorongan untuk perilaku anak selanjutnya karena hal tersebut dianggap biasa oleh lingkungannya.
Arrrggghhhh... Pokoknya gue mau jadi Presiden trus nyuruh KPI untuk memperbanyak kartun di tv dan menjalankan dengan benar aturan kategorisasi pada bioskop. Sekalian juga tuh kurang-kurangin tontonan yang gak bermartabat, yang kalo kata om Deddy Corbuzier, 'acara alay'. Kalo gak mau nurut gue bubarin aja sekalian. Kan gue Presiden! hehehe.

Well, ini kisah sebel di hari minggu gue aja sih.. tapi sekalian ngasih pendapat tentang apa yang terjadi saat ini juga hehehe.. 

Nah, kalo menurut kalian gimana?

Kamis, 09 Februari 2017

Keluarga Tepung, Telur dan Air



Ketika aku masih kecil, masih berada di sekolah dasar tepatnya, aku sering bertanya pada ibuku, darimana aku tercipta? Mengapa aku bisa hadir di dunia ini? Dan setiap kali pertanyaan yang sama berulang kali kutanya, ibuku selalu menjawab, “kamu itu ibu buat bareng bapak dari tepung terigu, telur dan air”. Aku tertawa, dan tak menyangka tapi tetap percaya. Pernakah hal tersebut dialami oleh orang lain? Mungkin tidak, dan mungkin hanya aku yang mengalaminya. Mungkin hanya hidupku saja yang berbeda dari kebanyakan orang. Meski begitu aku tetap bahagia lahir di keluarga tepung, telur dan air. 

Sampai suatu ketika, saat lebaran Idul Fitri, dimana setiap ibu rumah tangga pasti akan sibuk membuat kue lebaran, aku melihat ibu membuat adonan yang sama yang ia ceritakan ketika tengah membuat aku. Aku bingung pada saat itu, dan terus bertanya, apakah ibu akan membuat adik untuk ku? Aku akan senang akan hal tersebut. Namun ketika adonan telah selesai dan siap di oven, aku tak melihat adonan tersebut berwujud seperti manusia. “Mungkin ketika telah matang dan dikeluarkan dari oven ia akan langsung menangis,” ujarku dalam hati. Dan ya, betapa bodohnya aku percaya, atau lebih tepatnya dipaksa untuk percaya mengenai hal tersebut oleh ibu.

Mungkin saat itu pendidikan tentang sex terhadap usia dini memang belum tabu dan pantas untuk diberikan orang tua. Namun, memaksa anak untuk percaya terhadap hal yang tidak logis, menurutku lebih tidak pantas untuk dilakukan. Seperti kisah tentang keluarga miskin yang kelaparan yang menceritakan seorang ibu tengah memasak demi anak-anaknya yang kelaparan, namun tak memiliki bahan masakan apapun. Kau tau apa yang dilakukannya? Ya, sang ibu memaksa anaknya percaya jika ia sedang memasak nasi, padahal ia sedang merebus batu agar anaknya mengantuk, melupakan rasa lapar, dan akhirnya tertidur.

Sedari kecil kita dipaksa untuk memercayai hal bodoh yang tidak logis, yang sama sekali tidak bisa diterima oleh akal pikiran manusia normal pada umumnya. Dan menurutku hal tersebut yang membuat negeri tercintaku ini, Indonesia, terpuruk. Sehingga membuat kita mudah dibohongi oleh orang lain, dan negara lain. Tidak ada niat dan maksud diriku untuk menghina negeri sendiri atau orang-orang di dalamnya, atau bahkan ibuku sendiri melalui tulisan. Hanya saja, aku sedikit miris terhadap tindakan orang tua pada zaman ku kecil dahulu. Jika ada yang merasa demikian aku memohon maaf sebesar-besarnya.

Rabu, 08 Februari 2017

Kawan


Malam ini terasa panas, sangat panas hingga membakar segalanya. Kulitku, otakku, jantungku, bahkan hatiku. Semuanya lebur menjadi abu manusia yang siap untuk segara di doakan. Entah mengapa malam ini begitu sunyi, hingga suara udara yang dihembuskan kipas angin kamar ku pun terdengar sangat merdu, bagai alunan musik pengantar jenazah ketika dimakamkan. Hari ini sangat melelahkan, ya begitulah hidup, hari esok pun pasti akan sama melelahkannya.

Malam ini, bukan, lebih tepatnya pagi ini, pukul 03.00 a.m, tiba-tiba aku merasa jika di tahun ini aku akan banyak menelan pahitnya ditinggal orang yang ku kenal, bahkan yang ku sayang dulunya. Bagaimana tidak, dua bulan pertama saja aku harus kehilangan dua orang kawan sekaligus. Mereka meninggalkan ku secara halus, sangat halus sampai aku tak menyadari mereka telah pergi. Mungkin agar aku tak terlalu kecewa ketika mereka harus pergi dan meninggalkan ku dengan ribuan kenangan saat bersama mereka.

Bagiku, teman adalah segalanya dalam hidup. Mereka keluarga kedua, yang bahkan lebih mengenalku dengan baik dibanding keluarga asliku. Tapi mengapa mereka terlalu kejam. Aku tak menyalahkan mereka. Aku tak ingin. Namun siapa yang harus ku salahkan? Tuhan? Tidak, itu lebih tidak mungkin. Baiknya aku menyalahkan diriku sendiri. Mereka pergi karena aku. Tapi mengapa mereka tidak berpamitan ketika ingin pergi. Disitulah sifat kejam mereka. Mereka pergi perlahan-lahan, hingga aku lupa tentang mereka. Aku tak akan pernah lupa. Sungguh. Namun mereka terlalu angkuh untuk sekedar menyapa teman lama. Begitu pula aku sendiri. Gengsi berat dalam pikir setiap orang untuk menjadi pesapa yang pertama.

Mereka ingin didatangi, bukan mendatangi. Aku merasa diriku baik. Sangat baik. Mungkin sedikit angkuh dan munafik. Dan aku mendatangi mereka pada “akhirnya”. Ya, sangat sangat di akhir. Ketika pertama mengenal mereka, mereka sangat baik terhadapku. Dua orang ini, mereka adalah teman semasaku SMP dan teman semasaku kuliah. Aku kenal baik dengan mereka dulunya, begitu pula mereka terhadapku. Tapi mereka menghilang seiring berjalannya waktu yang tidak sebentar. Terhempas oleh kesibukkan masing-masing. Aku tak tahu pasti tentang itu. Tapi yang aku tahu pasti adalah ketika aku dan mereka sudah lama tidak bertemu, kami akhirnya bertemu dengan keadaan paling akhir tanpa bisa mengucap salam pertemuan atau perpisahan. Semoga kau diterima di sisi-Nya ya kawan. Aku tak akan pernah lupa gelak candamu, sebab telah terekam dalam memori kehidupan ku. Semoga kau bahagia disana, melebihi bahagiamu ketika masih menapak tanah.